Minggu, 31 Oktober 2010

LIFE IS THINKING

Hidup adalah berfikir
Dalam kehidupan kita melihat banyak kejadian yang ada di sekitar kita. Banyak hal-hal yang kita tidak ketahui. Apakah kita pernah berfikir mengenai hal-hal tersebut seperti Apa manfaatnya?? Mengapa ini ada? Bagaimana bisa ada? Apa akibatnya bila tidak ada? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang belum kita temukan jawabannya. Maka dalam hidup ini kita perlu untuk berfikir mengenai apa yang ada di diri kita maupun lingkungan kita baik itu mengenai perilaku manusia maupun keadaan alam sekitar pada khususnya dan alam semesta pada umumnya. Coba kita lihat dalam al Qur’an surat al Alaq ayat pertama diterangkan “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”, Ayat tersebut menurut beberapa ulama merupakan wahyu yang pertama kali turun. Dalam ayat tersebut pada awal ayat berbunyi “iqra” yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berarti “bacalah”. Kata tersebut mempunyai makna yang sangat luas sekali, tidak hanya sekedar membaca seperti membaca sebuah teks bacaan saja melainkan kita harus bisa membaca apapun segala yang ada, yang kita lihat, kita dengar, kita rasa.
Membaca merupakan proses berfikir untuk mengetahui, memahami maksud atau hikmah yang terkandung didalamnya terhadap segala sesuatu yang kita rasakan, kita lihat, kita dengar dan berfikir untuk apa yang harus kita lakukan mengenai hal itu.
Dalam hal ini saya akan mengajak diri saya sendiri dan saudara yang budiman untuk berfikir untuk membaca segala sesuatu yang ada, baik yang tampak atau yang tidak tampak, baik yang sudah ada maupun yang belum ada maupun yang telah tiada.
Di negara kita tercinta kali ini sedang dilanda banyak bencana yang menimpa saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air seperti, banjir bandang, tsunami, gunung meletus, angin topan. Semua bencana tersebut telah memakan korban yang tidak sedikit. Sedih sekali melihat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, harta benda, jiwa banyak yang hilang. Kita cobalah membaca hal itu apa sih penyebabnya dan siapa yang dapat merubahnya yaitu kita sendirilah yang berbuat.
“Allah tidak akan merubah suatu kaum manakala kaum tersebut tidak mau merubahnya”. Bencana yang kita alami merupakan ujian dari Tuhan dan kita harus ridha serta mencoba berfikir positif untuk mengetahui hikmah dari hal tersebut. Dalam sebuah hadits diterangkan “sesungguhnya Allah bila menyukai suatu kaum, maka dia akan menurunkan cobaan kepada mereka. Maka barang siapa yang ridha dengan ujian itu maka keridhaan Allah baginya, dan barang siapa yang membenci maka kebencian pula yang akan diterima”. Kita akan mencoba memahami hadits tersebut dan berfikir positif. Bahwa semua yang kita alami merupakan ujian dari Allah maka kita terima dengan ikhlas, yang dapat kita lakukan adalah ridha dengan keputusanNya, berfikir positif dan berbuat agar lebih baik. Berfikir positif bahwa Allah sedang menguji kita untuk menjadi umat yang lebih baik lagi. Kita bisa mecontoh hal-hal yang positif dari kisah-kisah para Rasul, para Nabi, dan para Wali-wali Allah, bahwa sebelum Allah mengangkat derajatnya maka Allah menurunkan berbagai macam cobaan yang ditimpakan kepadanya. Seperti kisah pada nabi Adam sampai Nabi Muhammad dan para Wali-wali Allah yang lainnya. Ibarat seperti kita jika kita akan naik tingkat maka kita harus lulus terhadap ujian tersebut, semakin tinggi tingkatannya maka semakin berat pula ujiannya. Maka kita harus bersabar, ridho, serta berfikir positif bagaimana caranya agar kita lolos dan menjadi umat yang unggul. Kita berfikir positif dengan mawas diri, mengubah, membenahi kesalahan-kesalahan apa yang telah kita perbuat supaya tidak mengulangi lagi dan bagaimana caranya agar kita bisa memperbaikinya agar menjadi lebih baik. Berbuat sesuai sunatullah (hukum-hukum Allah). Memahami hikmah dari setiap kejadian karena Allah menciptakan segala sesuatu penuh dengan makna, tidak ada yang sia-sia. Semoga kita menjadi umat yang di Ridhoi Allah swt.Amin3X ya Allah
Semangat dan Positif Thinking untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik!!

Created by
FITKA APNIYUSTIA
Mahasiswa IAIN WALISONGO
Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi

Kamis, 28 Oktober 2010

RAHASIA SUKSES

 Enam (6) hal yang harus diperhatikan untuk mencapai kesuksesan
1. Taat (taqwa) kepada Allah swt dan disiplin dalam segala hal
2. Selalu berfikir positif
3. Niat yang baik dan bertujuan untuk kebaikan
4. Bersungguh-sungguh dalam berusaha, jangan malas, jangan menyerah, jangan putus asa
5. Evaluasi terhadap semua yang berkaitan. Mungkin tentang kelemahan diri kita, pencarian solusi dll
6. Kuasai ilmunya, karena jika orang menguasai ilmu maka orang tersebut akan menguasai sesuatu hal sebatas ilmu yang dimiliki.

HUKUM KLIMAKS

Hukum Klimaks (hukum titik puncak)

Kita semua mengetahui bahwa di alam semesta ini tidak ada hal yang abadi kecuali hanya Allah yang esa semua ciptaanya akan mengalami perubahan tidak ada yang tetap pada bentuk dan posisinya. Jika kita menghayati gunung yang kelihatanya tetap pada posisinya, padahal tidaklah demikian. Dalam Q.S Al Naml 27 ; 88 dijelaskan “dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan..” benda – benda / makhluk-makhluk yang lainpun juga sama mengalami perubahan begitupula peradaban manusia semua akan mengalami perubahan dari titik terendah menuju titik puncak atau klimaks dan akhirnya menurun sampai pada titik lenyap atau kehancurannya. Hukum klimaks yaitu bahwa segala sesuatu yang ada didunia akan mengalami proses perubahan dari titik terendah atau awal permulaan terus berkembang menuju titik puncaknya dan setelahnya mengalami penurunan sampai pada akhirnya titik lenyap atau titik hancur. Semua proses daur ulang pun hanya untuk menghambat saja agar tidak cepat pada titik lenyap. Daur ulangpun kadang membuat hal baru lagi, benda aslinya sebenarnya sudah dikatakan lenyap dan itu pun dimulai dari awal dan tetap akan mengalami klimaks hingga sampai pada titik lenyapnya.
Semua akan mengalaminya baik itu benda mati, makhluk hidup, maupun segala ciptaannya dan perbuatannya akan mengalami klimaksnya hinga sampai pada kehancurannya. Kita bisa perhatikan yang ada pada diri kita dan lingkungan sekitar bahwa benda, manusia, negara, kerajaan, peradaban, kecanggihan teknologi, energi akan mengalami hal tersebut.
Sebelum melihat lebih jauh kita amati diri kita sendiri dahulu bahwa kita dari belum ada dan proses sampai kita ada, lahir belum tahu apapun dan belum bisa apapun, menuju anak-anak, remaja dan dewasa. Pada masa remaja dan dewasa (masa muda) inilah masa keemasan kita. Kita bisa melakukan banyak hal saat kondisi badan kita masih kuat, pikiran kita masih segar, ingatan-ingatan masih kuat, menuju menjelang tua, usia lanjut, tua renta dan akhirnya mati lenyap lagi menjadi tanah. Titik lenyap pada setiap benda, makhluk dan segala ciptaan dan perbuatannya berbeda-beda. Ada yang mengalami proses klimaksnya lama terus setelah klimaks langsung lenyap, ada yang mengalami proses klimaknya cepat terus proses menuju titik lenyapnya lama, ada yang agak stabil dan lain sebagainya.
Contoh yang lainnya kita bisa perhatikan sejarah-sejarah pada zaman dahulu seperti peradaban yunani kuno, mesir, babilonia, dinasti-dinasti cina, daulah-daulah islam semua mengalami masa keemasan / puncak kejayaan dan akhirnya mengalami kehancuran dan sekarang hanya tinggal sejarahnya saja.
Kita jangan bangga dengan kecanggihan teknologi sekarang yang masih terus berkembang semua itu juga akan mengalami titik klimaknya bahwa suatu saat nanti teknologi akan mengalami titik lenyap juga, jaman kecanggihan akan menjadi seperti jaman seperti dahulu lagi. Kitapun tidak boleh pesimis membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain bahwa Indonesia belum mengalami kemajuan yang tinggi, semua itu akan tetap berjalan sampai pada masanya entah itu kapan tapi yang jelas Indonesia akan menjadi negara maju sedangkan negara yang sudah maju akan mengalami proses kemunduran juga dan bahkan mengalami proses kehancuran seperti kita ketahui sejarah-sejarah dari masa lalu. Kalau kita amati juga sebenarnya ada peradapan yang paling tinggi diantara semua peradaban entah masa kita atau masa yang akan datang dan selanjutnya peradabannya hampir seperti dahulu dan akhirnya lenyaplah peradaban manusia.

Created by Muhammad Yustia