I. PENDAHULUAN
Kita menyadari bahwa bagian dari tubuh manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Untuk mencapai kesehatan secara holistik maka diperlukan keseimbangan antara keduanya karena bagian tersebut ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Jika tubuh secara fisik sakit terkadang pun bisa mempengaruhi dengan kondisi kejiwaan seseorang, begitu juga sebaliknya jika jiwa sakit tubuh pun bisa sakit dan bila jiwa sehat bisa membantu menyembuhkan penyakit fisik juga. Misal jika orang sedang sakit kepala, atau sakit gigi dapat mempengaruhi emosional orang tersebut sehingga terkadang orang tersebut mudah marah, mudah tersinggung. Contoh lain kadang jiwa yang sehat dapat menyembuhkan penyakit fisik hal ini sudah banyak yang mengalaminya misal saja orang sudah divonis dokter usianya tinggal berapa bulan saja karena sebuah analisa dokter mengatakan bahwa infeksi penyakit parah dan sukar disembuhkan, tetapi karena semangat dalam jiwa orang tersebut maka orang tersebut mampu sembuh dan banyak contoh lainnya yang ada dalam kehidupan kita. Dalam makalah ini akan dibahas tentang mengenai perspektif holistik tubuh manusia, perbedaan cara pengobatan dunia barat dan dunia timur, mencapai keseimbangan holistik (yang berkaitan dengan pola makan, pola hidup, dan pola fikir).
II. PEMBAHASAN
A. Perspektif Holistik Tubuh manusia.
Manusia pada hakikatnya terdiri dari dua subtansi, yaitu fisik dan psikis. Subtansi fisik adalah subtansi material, tidak berdiri sendiri, berbentuk komposisi, tidak kekal dan berada dalam alam jasad (jisim). Sedangkan subtansi immaterial, berdiri sendiri, tidak berbentuk komposisi, mempunyai daya mengetahui dan menggerakkan, kekal dan berasal dari dunia metafisik.
Secara fisik manusia sudah mengetahui banyak hal tentang dirinya, karena sifat dari mudah diamati, tetapi dalam kejiwaan susah dalam mengetahuinya dengan ilmu-ilmu yang miliki karena keterbatasan manusia. Dalam ilmu psikologi pun tidak bisa membahas jiwa secara detail karena pada hakikatnya jiwa tidak dapat terukur secara pasti, berbeda dengan ilmu kedokteran yang bisa mengetahui anatomi tubuh manusia secara akurat, dapat mengetahui sistem kerja organ-organ tubuhnya beserta gangguan-gangguannya. Jika fisik sakit maka mudah mengenalinya, tetapi jika jiwa yang sakit kadang manusia tidak merasakan kecuali pada orang-orang yang peka yang mampu mengenali jiwanya sendiri.
Dari sudut pandang secara menyeluruh kita mengenal bahwa manusia terdiri dari tubuh fisik (body) secara biologis, jiwa (soul) (yang berkaitan dengan rasa, perasaan), dan fikiran (mind) yang berarti kemampuan secara intelektual. Untuk mencapai kesehatan lahir batin manusia harus bisa menyeimbangkan seluruhnya bagian tersebut karena jika salah satu bagian bermasalah maka bagian yang lainpun akan mengalami gangguan. Secara medis, emosi seseorang mempunyai pegaruh besar terhadap fisik manusia dalam mengeluarkan zat-zat tertentu yang berdampak pada kesehatan manusia. Misal jika orang sedang mengalami tekanan emosi maka dapat memicu asam lambung yang berakibat menjadi maag, gangguan pencernaan. Orang yang mengalami ketakutan dapat memicu keluarnya zat adrenalin dalam tubuh. Begitu juga sebaliknya kesehatan fisik juga mempengaruhi jiwa seseorang juga misal jika fisik sehat maka manusia dapat berfikir secara positif dan mampu berinteraksi sosial secara baik dapat mengontrol emosionalnya, tetapi jika fisik sakit terkadang manusia kurang mampu dalam mengontrol emosionalnya.
Uraian diatas sudah sedikit menggambarkan tentang bagaimana keterkaitan antara fisik dan jiwa manusia secara sederhana tetapi belum membahas secara detail tentang bagian tubuh manusia seutuhnya. Berikut ini akan dibahas mengenai tubuh (body) secara fisik, jiwa (soul), dan fikiran (mind).
1. Tubuh manusia (body)
Secara biologis tubuh manusia terdiri dari kumpulan organ-organ tubuh yang membentuk suatu sub sistem yang bekerja secara khusus, seperti sistem pernapasan, sistem pencernaan , sistem penginderaan, sistem saraf, sistem peredarah darah, sistem gerak, dan lain sebagainya sehingga membentuk tubuh manusia secara utuh. Tubuh secara fisik mudah dikenali karena kita mampu mengamati secara langsung.
Untuk mengetahui apakah fisik sedang sakit atau tidak dapat dilakukan test kesehatan, jika tidak ada gangguan pada masing-masing sub sistem dan pada organ-organ terkait berarti fisik orang tersebut dapat dikatakan sehat.
2. Jiwa (soul)
Definisi dari jiwa sangatlah banyak ada yang mengatakan, roh, nyawa, nafsu, perasaan, hati, qalb dan lain sebagainya. Dalam ilmu psikologi pun jiwa tidak dapat diketahui secara pasti, karena dari esensi jiwa itu tidak terukur seperti halnya fisik manusia. Dalam hal ini akan membahas pengertian jiwa dari berbagai sudut pandang. Jiwa dalam bahasa arab disebut (An nafs), jiwa itu sangat erat kaitannya dengan perasaan, keinginan, penilaian baik buruk, senang, sedih, tenang, gelisah dan sebagainya. Karena sifatnya yang labil maka jiwa tidak bisa diukur secara pasti, tetapi dapat diketahui dengan gejala-gejala atau gangguan-gangguan yang tampak. Dalam ilmu psikologi untuk mengetahui kondisi kejiwaan seseorang dapat dilakukan test kepribadian sehingga jika seseorang mengalami gangguan jiwa dapat diketahui dari hasil diagnosis melalui test kepribadian tersebut. Orang yang sehat jiwanya akan mampu mengatasi semua problem yang dihadapinya dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial secara baik.
3. Fikiran (mind)
Kita semua sudah tahu fikiran itu sangat erat kaitannya dengan akal, sistem memori atau ingatan, kemampuan intelektual, kecerdasan dan lain sebagainya. Kesehatan akal pun sangat berbengaruh dengan kesehatan jiwa dan fisik juga. Jika manusia selalu berfikir positif maka dapat menghasilkan energi positif juga yang dapat mempengaruhi kesehatan jiwa dan fisiknya pula. Tingkat kecerdasan manusia dapat diukur dengan test IQ, atau Tes Potensi Akademik (TPA).
Dari uraian diatas maka kita tahu tentang perbedaan antara tubuh (body) secara fisik, jiwa (soul), dan fikiran (mind). Semua saling berkaitan walaupun itu hal yang berbeda. Yang perlu kita pahami yaitu bagaimana caranya untuk mencapai keseimbangan supaya diri kita sehat secara jasmani maupun rohani, metode cara penyembuhan yang sesuai.
C. Mencapai Keseimbangan Holistik
Pengertian sehat yaitu jika kondisi tubuh manusia secara fisik dan jiwanya mengalami keseimbangan antara lain keseimbangan tubuh (body), Jiwa (soul), fikiran (mind). Menurut UU No. 23 tahun 1992 yang dimaksud kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Atas dasar definisi tersebut maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik) dari unsur badan (organo biologik), jiwa (psiko edukatif), sosial (sosio kultural) yang tidak dititik beratkan pada penyakit tetapi pada kualitas itu yang terdiri dari kesejahteraan dan produktivitas sosial ekonomi. Dan definisi tersebut tersirat bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari kesehatan dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari :
a. Pola Makan
Setiap makanan yang kita konsumsi akan mengalami proses pencernaan jika makanan itu baik maka akan menyehatkan tubuh orang tersebut dan begitu juga sebaliknya. Makanan yang baik bagi tubuh adalah makanan yang halal dan toyib. Makanan yang halal saja belum tentu baik bagi tubuh, misal saja gula itu halal tetapi tidak toyib bagi penderita diabetes, santan dan makana berminyak tidak baik untuk penderita kolesterol, garam tidak baik bagi penderita hipertensi, sayuran kul tidak baik bagi penderita hipotensi, dan berbagai makanan lain sehingga kita harus memperhatikan pola makan kita untuk menjaga kesehatan tubuh manusia secara fisik.
b. Pola Hidup
Pola hidup ini berkaitan dengan cara kita mengatur segala aktifitas kita misal saja penentuan waktu untuk bekerja, belajar, istirahat, berolah raga, refreshing dan lain sebagainya. Sebab dalam tubuh manusia secara fisik maupun jiwa butuh waktu istirahat. Orang yang berlebihan ataupun kurang dalam beristirahat maupun bekerja akan berpengaruh pada kesehatan orang tersebut. Kita dapat menyesuaikannya sendiri tergantung kebutuhan.
c. Pola Fikir
Banyak kalangan dari kita sering pesimis dalam berfikir untuk melakukan sesuatu, takut dalam menghadapi masalah, sering dimanja dalam kenyamanan, sering dalam ketidaksadaran, dan yang paling parah yaitu selalu memandang atau menilai secara negatif. Pola berfikir sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia baik secara fisik maupun jiwa.
Pola fikir yang sehat yaitu kita selalu berfikir positif dalam segala hal. Berfikir positif dapat memicu energi-energi positif pula yang mampu menyehatkan secara fisik dan mengatasi berbagai masalah. Dengan berfikir positif maka akan menghasilkan energi positif yang mampu membangkitkan semangat manusia untuk berkarya.
Setiap manusia mempunyai empat macam lokasi untuk mengakses data di otaknya, yaitu visualisasi atau melihat hal-hal yang telah lalu, misalnya masa kecil ; imajinasi yaitu melihat dengan cara membuat simulasi tentang apa yang terjadi atau dibayangkan terjadi (khayalan belaka), misalnya Walt Disney; listening, yaitu mendengar perkataan dari masa lalu, misalnya kata ayah dan ibu serta nyanyian; discussing, yaitu mendengar dengan cara membuat simulasi tentang apa yang bisa terjadi dan membayangkan berdiskusi dengan orang lain.
III. KESIMPULAN
Untuk mencapai kesehatan secara menyeluruh (holistik) maka diperlukan adanya keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan fikiran karena manusia merupakan satu kesatuan yang utuh. Jika salah satu mengalami gangguan maka akan berakibat pada bagian yang lain pula. Kesehatan merupakan sesuatu yang kita harapkan bersama, maka lakukanlah yang terbaik untuk kesehatan kita. Lebih baik mencegah dari pada mengobati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar